Jakarta Selatan 24 Jam – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melakukan inspeksi mendadak ke kawasan Plaza 2 Blok M atau District Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2025). Kehadirannya menarik perhatian publik karena menyusul kabar viral tentang banyak pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang memilih hengkang dari kawasan tersebut akibat kenaikan tarif sewa kios.
Menggunakan Transportasi Publik
Tidak seperti biasanya, Pramono memilih berangkat dari Balai Kota menuju Blok M dengan menggunakan transportasi umum. Ia ingin sekaligus merasakan langsung pengalaman masyarakat dalam mengakses pusat kota menuju kawasan bisnis tersebut. Didampingi sejumlah staf dan Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, Pramono berjalan kaki begitu tiba di sekitar lokasi.
Baca Juga : Tim Advokasi Dorong Pengawasan Kejari Jaksel Terkait Kasus Silfester
“Teman-teman sekalian, hari ini sore, kebetulan hari Rabu, saya memang sengaja menggunakan transportasi publik dari Balai Kota ke Blok M. Saya ingin melihat langsung apa yang sedang viral di District Blok M,” ujar Pramono kepada wartawan usai berkeliling kawasan.
Suasana Kunjungan
Sesampainya di lokasi, Gubernur langsung memasuki area District Blok M tanpa banyak berbicara. Langkahnya sontak menarik perhatian pengunjung dan jurnalis yang sudah menunggu. Kawasan yang sebelumnya tampak sepi, mendadak ramai oleh staf MRT, pegawai Pemprov, serta awak media yang mengabadikan momen tersebut.
Pramono terlihat meninjau sejumlah kios yang kabarnya mulai ditinggalkan penyewa. Ia berhenti sejenak di beberapa titik, berbincang singkat dengan pedagang, sekaligus mendengar keluhan mereka. Meski tidak semua pedagang berani menyampaikan langsung, kehadiran orang nomor satu di Jakarta itu dianggap memberikan harapan baru.
Isu Kenaikan Tarif Sewa
Kabar mengenai kenaikan tarif sewa kios di District Blok M mencuat setelah sejumlah pelaku UMKM mengaku kesulitan bertahan. Mereka menilai tarif baru terlalu tinggi dibanding potensi omzet harian, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi dan ditambah situasi sosial Jakarta yang belakangan dinamis akibat demonstrasi.
Beberapa UMKM bahkan sudah angkat kaki lebih dulu karena tidak sanggup menanggung beban sewa. Hal itu membuat suasana District Blok M yang dulu ramai perlahan tampak lengang. Fenomena ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan tagar #SaveUMKMBlokM yang sempat trending di platform X (Twitter).
Respons Gubernur
Pramono mengakui bahwa keluhan para pelaku usaha perlu ditindaklanjuti. Ia menegaskan akan berkoordinasi dengan PT MRT Jakarta sebagai pengelola kawasan untuk mencari solusi terbaik.
“Kita tentu tidak ingin kawasan ini kehilangan daya tariknya. UMKM adalah tulang punggung perekonomian Jakarta. Jika mereka hengkang, ekosistem yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa runtuh. Jadi saya minta pengelola duduk bersama dengan pelaku usaha, mencari jalan keluar yang win-win,” jelasnya.
UMKM Sebagai Penopang Ekonomi Kreatif
District Blok M dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu ikon gaya hidup dan pusat kuliner di Jakarta Selatan. Banyak UMKM lokal, mulai dari brand fesyen independen, kafe, hingga kedai makanan khas nusantara, tumbuh di kawasan ini. Kehadiran mereka tidak hanya memberi warna bagi kawasan, tetapi juga menghidupkan perekonomian lokal serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Sejumlah pengunjung yang ditemui di lokasi mengaku prihatin jika benar banyak UMKM terpaksa hengkang. “Saya sering ke sini karena suka suasananya yang kreatif. Kalau banyak UMKM tutup, sayang sekali. District Blok M kan identik dengan usaha anak muda Jakarta,” kata Rendy, seorang pengunjung asal Kebayoran Baru.
Tugas Berat PT MRT Jakarta
Sebagai pengelola kawasan, PT MRT Jakarta (Perseroda) dihadapkan pada dilema antara menjaga keberlanjutan bisnis properti dengan mempertahankan iklim usaha yang ramah bagi UMKM. Direktur Utama Tuhiyat menyatakan pihaknya siap mengevaluasi kebijakan sewa.
“Kami mendengar langsung masukan dari Pak Gubernur dan para pelaku UMKM. Prinsip kami jelas, keberlangsungan kawasan ini tidak bisa lepas dari kontribusi UMKM. Kami akan melakukan review agar ada keseimbangan antara aspek bisnis dan keberlanjutan sosial,” ujarnya.
Langkah Lanjutan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menyiapkan forum dialog antara pengelola dan para pelaku UMKM. Forum ini diharapkan menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mencari solusi yang tidak memberatkan kedua belah pihak.
Selain itu, Pemprov juga mempertimbangkan insentif berupa subsidi sewa atau potongan harga khusus bagi UMKM yang baru merintis usaha. Kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan, namun diproyeksikan dapat membantu mempertahankan keberadaan usaha kecil di District Blok M.
Simbol Kepedulian Pemimpin
Langkah Pramono yang memilih datang dengan transportasi umum dan berjalan kaki menuju District Blok M dinilai sebagai simbol kepedulian sekaligus komitmen untuk melihat persoalan dari dekat. Bagi sebagian warga, hal itu menjadi sinyal bahwa pemerintah serius menangani keluhan masyarakat, terutama sektor UMKM yang rentan terhadap gejolak ekonomi.
“Bagus sekali Pak Gubernur mau lihat langsung. Jadi tidak hanya dengar laporan di atas kertas, tapi merasakan suasana di lapangan,” kata Ani, pedagang aksesori yang sudah berjualan di Blok M lebih dari 10 tahun.












