Merevitalisasi Wajah Pasar Tradisional Jakarta: Janji Pramono Anung untuk Mengubah Kumuh Menjadi Modern
Jakarta Selatan 24 Jam– Ibukota Jakarta, dengan gemerlap pencakar langit dan pusat perbelanjaan modernnya, masih menyimpan sebuah realitas yang seringkali tersembunyi di balik kemegahan tersebut: pasar-pasar tradisional yang kumuh dan memprihatinkan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara jujur mengakui fakta ini dan secara terbuka berkomitmen untuk mengubahnya. Dalam sebuah pernyataan yang menandai dimulainya sebuah agenda transformasi besar-besaran, Pramono menjanjikan penyulapan pasar-pasar kumuh tersebut menjadi tempat yang bersih, layak, dan modern.
Mengakui Realitas: 153 Pasar dan Tantangan yang Menanti
Dalam kunjungannya ke RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, pada Selasa (16/9/2025), Gubernur Pramono Anung tidak menutup-nutupi kondisi riil dari aset publik yang menjadi urat nadi perekonomian warga kecil ini. Dari total 153 pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya, ia mengakui bahwa belum semuanya mendapatkan sentuhan revitalisasi.
“Memang harus diakui dari 153 pasar yang dimiliki oleh Jakarta, belum semuanya direvitalisasi,” ucap Pramono dengan nada blak-blakan yang menyiratkan keseriusannya menangani persoalan ini.

Baca Juga: Bagi Pemudik yang SIM-nya Nyaris Habis, Ini 5 Lokasi SIM Keliling di Jakarta Hari Ini
Fakta yang lebih mencengungkan datang dari data yang diungkapkan sebelumnya, pada Kamis (11/9/2025). 40 persen atau sekitar 61 pasar dari total tersebut berada dalam kondisi yang “sangat memprihatinkan”. Gambaran yang muncul adalah pasar dengan kondisi kumuh, becek, atap bocor, serta rawan terhadap bencana banjir dan kebakaran. Kondisi ini tidak hanya tidak nyaman bagi pedagang dan pembeli, tetapi juga menyimpan ancaman keselamatan yang serius.
Daftar Pasar Prioritas: Fokus pada yang Terparah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memetakan sejumlah pasar yang kondisinya paling buruk dan menjadi prioritas untuk segera ditangani. Pasar-pasar ini tersebar di seluruh penjuru ibu kota:
-
Jakarta Utara: Pasar Sukapura, Pasar Lontar, Pasar Sindang, Pasar Rawabadak
-
Jakarta Timur: Pasar Pulo Gadung, Pasar Rawamangun, Pasar Apera, Pasar Ciplak, Pasar Kampung Ambon
-
Jakarta Pusat: Pasar Cempaka Putih, Pasar Paseban, Pasar Serdang, Pasar Jelambar Polri
-
Jakarta Selatan: Pasar Blok A, Pasar Radio Dalam, Pasar Mampang Prapatan, Pasar Warung Buncit
Dua pasar yang disebutkan berada dalam kondisi terparah adalah Pasar Blok G Tanah Abang dan Pasar Lontar Kebon Melati. Revitalisasi terhadap pasar-pasar ini kemungkinan besar akan menjadi proyek percontohan yang mendapat perhatian khusus.
Mendengarkan Suara Pedagang: Komitmen Bersama untuk Revitalisasi
Langkah Pramono Anung tidak dilakukan secara sepihak. Sebelum memutuskan kebijakan, ia telah menggelar rapat bersama jajarannya dan pihak terkait, serta yang terpenting, telah bertemu secara langsung dengan perwakilan koperasi pedagang.
Pertemuan ini menghasilkan beberapa poin kesepakatan yang crucial:
-
Permintaan Para Pedagang: Para pedagang secara aktif meminta Pemprov DKI untuk segera melakukan renovasi dan optimalisasi pasar.
-
Syarat Revitalisasi: Para pedagang menginginkan proses revitalisasi tidak mengorbankan Fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos) yang ada di sekitar pasar. Mereka juga memastikan bahwa area Fasos dan Fasum yang ada di dalam pasar tidak disalahgunakan untuk aktivitas berjualan, yang seringkali mempersempit ruang dan menimbulkan kesan kumuh.
-
Persetujuan Gubernur: Pramono menyetujui seluruh permintaan ini. “Dan itu sudah saya setujui, maka renovasi akan segera kami lakukan,” tegasnya.
Pendekatan kolaboratif ini patut diacungi jempol. Dengan melibatkan pedagang sebagai subjek utama, diharapkan proses revitalisasi tidak hanya membangun fisik pasar, tetapi juga mempertahankan jiwa dan ekosistem sosial-ekonomi yang telah hidup puluhan tahun di dalamnya.
Visi Masa Depan: Tidak Hanya Revitalisasi, Tapi Juga Digitalisasi
Janji Pramono Anung tidak berhenti pada membenahi fisik pasar yang kumuh. Ia membawa visi yang lebih jauh ke depan: digitalisasi pasar tradisional.
Model yang sudah diterapkan di Pasar Santa dan Pasar Mayestik akan menjadi blueprint. Digitalisasi dapat mencakup pembuatan platform online dimana pembeli dapat memesan barang dari pedagang tradisional, sistem pembayaran non-tunai yang terintegrasi, hingga manajemen inventori yang lebih baik bagi pedagang.
Tujuannya jelas: meningkatkan nilai transaksi secara signifikan. Dengan go digital, pasar tradisional tidak hanya bersaing dalam hal kebersihan dan kenyamanan, tetapi juga mampu merebut pangsa pasar dari e-commerce dan retail modern dengan menawarkan keunggulan produk segar dan pengalaman berbelanja yang otentik namun tetap modern.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Janji revitalisasi pasar bukanlah hal baru. Sebelumnya, program serupa juga pernah digaungkan oleh pemimpin sebelumnya. Tantangan terbesarnya adalah konsistensi dalam eksekusi, penjaminan kualitas pembangunan, dan yang paling krusial adalah manajemen pascarevitalisasi. Sejarah menunjukkan, banyak pasar yang setelah direvitalisasi menjadi megah justru sepi karena sewa menjadi mahal atau pedagang lama tidak mampu kembali.
Komitmen Pramono untuk tidak mengorbankan Fasum/Fasos dan mendengarkan aspirasi pedagang adalah langkah awal yang tepat. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa proses tender berjalan transparan, pembangunan sesuai dengan kebutuhan pedagang (seperti sirkulasi udara yang baik, drainage yang memadai, dan tempat parkir), dan yang terpenting, adanya skema yang memastikan pedagang lama dapat tetap berjualan pascarevitalisasi, baik dari segi biaya maupun penempatan lokasi.
Jika janji ini dapat diwujudkan, bukan tidak mungkin wajah pasar tradisional Jakarta akan berubah total. Dari tempat yang lembab, kumuh, dan rawan bencana, menjadi pusat ekonomi rakyat yang bersih, nyaman, aman, dan modern tanpa menghilangkan jiwa dan ruhnya yang khas. Transformasi ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan daerah dan transaksi pedagang, tetapi juga mengembalikan marwah pasar tradisional sebagai jantung kebudayaan dan perekonomian masyarakat Jakarta yang bangga.












