Malam di Ragunan: Antara Peluang Wisata dan Tantangan Anggaran Fraksi PSI Dorong Riset Pasar Sebelum Kebijakan Dipermanenkan
Jakarta Selatan 24 Jam– Jakarta kini memiliki destinasi malam yang baru. Gemerlap lampu dan suara malam mulai menyapa pengunjung Taman Margasatwa Ragunan setiap malam Minggu. Program “Night at the Ragunan Zoo” yang resmi dibuka pada Sabtu, 11 Oktober 2025, menandai babak baru kebun binatang legendaris ibu kota, dengan jam operasional diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB. Namun, di balik antusiasme publik, suara kritis dan penuh pertimbangan muncul dari Senayan, mengingatkan kita bahwa sebuah kebijakan tidak hanya tentang gebrakan, tetapi juga tentang keberlanjutan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menggagas program ini sebagai jawaban atas kebutuhan ruang rekreasi dan olahraga masyarakat urban yang seringkali hanya memiliki waktu luang di malam hari. “Masyarakat tidak perlu jauh-jauh karena memang Ragunan akan kita tata untuk menjadi lebih baik,” ujar Pramono, penuh harap. Namun, harapan ini diimbangi dengan seruan kehati-hatian dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di DPRD DKI.
APBD Menipis, Kebijakan Harus Matang
Di tengah euforia pembukaan, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menyoroti sebuah realitas fiskal yang tidak bisa diabaikan: pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat yang berimbas pada menyusutnya nilai APBD DKI Jakarta tahun 2026. Dalam wawancaranya dengan Tirto pada Minggu (12/10/2025), Bun menegaskan bahwa kebijakan Ragunan malam tidak boleh menjadi batu sandungan yang memberatkan anggaran daerah.
Baca Juga: Dalam Rangka Semarakkan Bulan Bahasa, Unindra Gelar Seminar Jurnalistik yang Diikuti 600 Mahasiswa
“Kalau pelaksanaannya nanti tidak optimal, maka dikhawatirkan akan menjadi beban terhadap anggaran DKI yang sekarang perlu dihemat dan dipakai sebaik mungkin,” kata Bun.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Operasional sebuah kebun binatang pada malam hari jelas membutuhkan biaya tambahan yang signifikan, mulai dari energi listrik untuk penerangan, penambahan tenaga kerja, hingga perawatan dan keamanan satwa. Jika minat pengunjung tidak sesuai dengan prediksi, maka alih-alih menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), program ini justru berpotensi menjadi lubang hitam anggaran.
Riset Pasar: Kunci Menghindari “Silent Night” di Ragunan
Solusi yang ditawarkan Fraksi PSI adalah sebuah pendekatan yang berbasis data dan riset. Bun Joi Phiau mendorong Pemprov DKI untuk segera melakukan riset pasar yang komprehensif. Tujuannya jelas: mengukur secara nyata seberapa besar minat dan daya tarik masyarakat terhadap wisata kebun binatang malam.
“Karena sangat disayangkan apabila pengunjungnya nanti sedikit, padahal dari pihak pengelola sudah mengeluarkan banyak sumber daya dan tenaga,” ucapnya.
Riset pasar dinilai penting untuk memastikan bahwa Ragunan malam akan ramai dikunjungi, bukan justru sepi. Dengan memahami ekspektasi dan keinginan calon pengunjung, pengelola dapat merancang paket wisata yang tepat sasaran, baik dari segi tiket, atraksi, maupun fasilitas pendukung. Hal ini akan meminimalisir risiko kerugian dan memastikan investasi yang dikeluarkan pemerintah memberikan return yang optimal, baik secara finansial maupun sosial.












